Cinta tidak perlu jeda. Kalimat tersebut mendeskripsikan
kecintaan
Vidyapati Mangunkusumo terhadap pekerjaannya sebagai dokter spesialis mata.
Lewat sebuah buku biografi berjudul Mata, Cinta dan Terang Semesta:
Perjalanan dr. Vidyapati Mangunkusumo, SpM dalam ikhtiar mengurangi kebutaan di
Indonesia, dokter yang banyak menangani katarak itu membagikan kisah
pengabdiannya.
“Saya baru tahu ada satu cara yang lebih elegan melalui bahasa dan yang bisa
mencapai lapisan masyarakat macam-macam,” ujar Vidyapati dalam acara peluncuran
bukunya di Auditorium Jakarta Eye Center, Kedoya, Jakarta Barat, Sabtu,
20 Mei 2017.
Vidyapati mengatakan melalui bukunya, ia ingin mengenalkan kepada masyarakat
suka dan dukanya menjadi seorang dokter spesialis mata. “Buku ini juga menjadi
ungkapan syukur dan terima kasih saya kepada keluarga, teman dan sahabat yang
selama ini mendukung profesi dan
pelayanan saya dalam kesehatan mata di Indonesia,” jelasnya.
Buku Mata, Cinta dan Terang Semesta ditulis oleh Agus M. Irkham. Agus
sengaja memilih judul tersebut karena terasa pas menggambarkan proses
perjalanan hidup sang dokter. “Kehidupan dr. Vidyapati bisa dirangkai dalam
kata Mata, Cinta dan Terang Semesta,” kata Agus.
Menurut Agus, proses kehidupan yang dilalui oleh Vidyapati berawal dari Mata,
yakni ketika dia dihadapkan dengan ego personal. Seiring dengan berjalannya
waktu, ego diri sendiri
itu berubah menjadi ego semesta dimana ia menemukan kecintaannya dalam membantu
masyarakat lain yang membutuhkan. "Seluruh pengalaman operasi, bakti
sosial, dan membantu masyarakat yang membutuhkan bukan hanya memberi cahaya di
kehidupan orang lain, tetapi juga di hidup dokter Vidyapati sendiri,"
katanya.
Buku Mata, Cinta dan Terang Semesta bercerita tentang kegiatan
sehari-hari Vidyapati bukan hanya sebagai seorang dokter di rumah sakit,
tetapi juga dokter bakti sosial yang mempunyai misi untuk mengurangi penderita
katarak di Indonesia. Vidyapati ikut terlibat dalam menurunkan angka buta
katarak di Indonesia dengan cara terjun langsung dalam kegiatan bakti sosial di
Indonesia.
Vidyapati, kata Agus, juga berperan dalam pendirian Balai Kesehatan Mata Darma
Usada Netra yang berlokasi di Pelabuhan Ratu, Jawa Barat, tempat di mana dari
1.100 pasien menjalani operasi katarak gratis sejak 2006. “Memberikan
panduan bagaimana kita melakukan menjadi relawan buta katarak di Indonesia,”
kata Agus.
Agus membutuhkan waktu sekitar 15 bulan untuk merampungkan buku Mata,
Cinta dan Terang Semesta: Perjalanan dr. Vidyapati Mangunkusumo, SpM dalam
ikhtiar mengurangi kebutaan di Indonesia. Dia menggabungkan tekhnik
penulisan jurnalistik, ilmiah, dan sastra.

0 komentar:
Posting Komentar